Wednesday, November 12, 2014

Surat Cinta Untuk Kedua Pelitaku (part1)

Untuk dua makhluk ciptaan Allah yang kukenal pertama kali saat diri ini terlahir ke dunia


Papah


Itulah caraku memanggil sosok yang berarti dalam hidupku. Beliau mampu dan mau mengorbankan dirinya demi sebuah senyuman yang tersimpul di wajah mamah, aku, serta kedua adikku. Beliau tak mau tahu jika hal yang dia lakukan itu membuat tubuhnya sakit. Beliau mengajarkan kami makna dari sebuah pengorbanan, kerja keras, tanggung jawab, dan pantang menyerah. Karena beliau percaya bahwa Allah telah menyiapkan skenario indah untuknya. Walaupun orang-orang menganggap itu adalah sebuah kecelakaan bahkan musibah, tapi beliau melihatnya sebagai sebuah ujian yang Allah berikan sebagai latihan untuk menguatkan dirinya. Karena dibalik skenario yang rumit, pasti itu berakhir dengan kebahagian serta dibarengi dengan mengucap rasa syukur yang tiada hentinya.

Sosok ini yang memberi ku kekuatan, ketika ku langkahkan kaki menuju kampus seakan-akan aku tidak merasakan panasnya sepatu yang mencium aspal meskipun beratapkan matahari. Setiap kupeluk tubuhnya ketika hendak berangkat, selalu terasa begitu hangat, kaku, dan sedikit kasap di bagian kulitnya mungkin karena beliau terlalu asyik dengan pekerjaannya. Maafkan aku pah, jika aku terlalu banyak menuntut barang-barang yang seharusnya tidak aku minta dengan terburu-buru, iya contohnya netbook ini. Kuharap papah ngga bosen sama pertanyaan-pertanyaan yang selalu aku utarakan sampai sekarang terutama saat papah lagi nonton acara olahraga sama natgeo hehe..

Terima kasih telah menyambutku dengan senyum kebahagian dan rasa syukur saat aku hadir di keluarga kecil kita, walaupun papah harus bela-belain dari Tegal dan langsung menuju ke Tangerang cuma untuk lihat wajah polos dari bayi perempuan mu ini (1995) dan pada akhirnya kau memberikan nama bayi itu Marini dan nenek yang memberikan nama belakangnya Chairunnisa.

Selamat Hari Ayah, pah




                                                                                        Upinet, 12 November 2014



                                                                                                     Si Sulung